Tagged: Trend RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • gadisayu18 1:32 pm pada April 23, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , gadget, teknologi, telekomunikasi, Trend   

    Fenomena Blackberry 

    Tulisan ini diilhami oleh statement teman saya yang memberikan tag line untuk gadget Blackberry(BB) menjauhkan yang dekat mendekatkan yang jauh. Tanpa pikir panjang saya langsung ngakak sambil berpikir (ngakak dan berpikir itu susah loh). Lucu sih tapi ya memang faktanya demikian, orang yang “dikuasai” BB pasti sibuk dengan BB-nya entah chatting, entah facebookan, entah ga ngapa2in tapi emang pengen ngotak-ngatik aja, entah buka email dan entah-entah yang lain (biasanya kegiatan antah berantah itu disebut AUTIS)

    Ada teman saya yang kalo sudah sibuk dengan BB nya, ia tidak perduli dengan obrolan sekitar maupun keadaan sekitar meskipun pada saat itu juga Geng kami sedang asik bergosip, asik ngobrol dari yang penting sampai yang ga penting hingga ga penting sama sekali. Teman saya itu merasa dimudahkan dengan kehadiran BB karena pada saat itu statusnya dengan pacarnya adalah LDR (long distance Relationshit hahahaha). Walhasil setiap harinya ia sibuk ber chit-chat ria dengan pacar tersayang nun jauh di benua Australia. Ternyata joke teman saya terbukti “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh”.

    Baru-baru ini ada seorang gadis yang meninggal dunia akibat kecelakaan, disinyalir akibatnya adalah pada saat mengendarai mobilnya ia juga sibuk ber BBM-an (Blakberry messenger) dengan temannya. Berita ini disebar ke berbagai media internet (facebook salah satunya), sesama pengguna BB, bahkan sampai masuk koran. Saya tidak mengenal gadis ini, namun ternyata dia termasuk salah satu mahasiswi yang cukup terkenal di kampusnya. Sosoknya baik, menyenangkan,dll itu yang saya lihat di internet. Bahkan pada saat saya membuka youtube ada 2 video yang menayangkan slide-slide fotonya yang berjudul in memoriam jade dan remembering jade, nama gadis itu jade.

    Kemudian ada senior di kampus saya yang saya kenal hanya sebatas persenyuman saja (kalo berpapasan senyum-senyuman saja tapi belum tentu saling tahu nama atau angkatan satu sama lain). Senior saya itu berteman dengan saya di facebook dan tiap kali dia pergi ke suatu tempat, pasti statusnya berubah. Contoh : “Aseeeeekkk lagi get high di ….”, “lagi makan mie yamin di ….., dingin-dingin gini brrrr”, “lagi luluran di ….. enak banget”. Tidak hanya itu, sesaat statusnya diubah foto kegiatan yang tersirat di statusnya pun di upload.

    Ada lagi teman kampus saya, yang sedari munculnya wabah BB muncul ia sibuk pilah-pilih BB mana yang cocok dengan dirinya (kaya nyari pacar aja hahahaha) Pada akhirnya, baru-baru ini BB nya bisa terwujud. Tapi muncul statement dari dirinya, begini katanya : “ah pake BB ternyata ga enak”, “facebooknya layarnya kecil, enakkan pake komputer di rumah” kemudian saya dan penumpang angkot lainnya hanya menghela napas.

    Wabah demam BB juga menyerang pakde saya, (rupanya wabah BB tak pandang umur). Pada saat saya sowan (red:berkunjung) ke rumahnya pakde saya tak lagi banyak bicara, biasanya beliau yang paling bawel jika bertemu dengan ponakannya yang satu ini, candaan-candaan hanya sedikit yang dilontarkan pokonya pakde saya tak seperhatian dulu deh. Beliau lebih perhatian sama BB Bold yang masih gress itu. Kemudian saat saya pamit pulang pakde saya yang biasanya memberikan nasehat atau wejangan,kali ini tidak lagi. “kamu beli BB enak kan kita nanti bisa ngobrol BBM dan PING-PING an” ujarnya sambil masih sibuk memandangi BB nya. Saya dan ibu saya hanya geleng-geleng kepala.

    Di restoran yang cukup terkenal di Bandung, saya dan Z yang ngidam sop buntut saat itu. Sambil menunggu makanan datang, kami melakukan ritual kami yaitu foto-foto menggunakan digicam. Hari itu pengunjung yang datang cukup ramai, terdengar gelak tawa dimana-mana dan riuh rendah suara pengunjung. Namun tidak dengan meja di samping meja kami. Disitu ada tiga orang yang sudah berumur kira-kira kepala empat atau lebih, mereka sama sekali tidak saling berinteraksi. Mereka sibuk dengan BB nya masing-masing hingga makanannya tiba, mungkin kegiatan itu berlangsung sampai makanan mereka dingin atau bahkan sampai pada saat kami berdua mau pulang.

    Tidak hanya itu saja, di salah satu butik di sebuah mall, saya yang saat itu sedang berburu pakaian bersama ibu saya (maklum lagi musim sale hehe) sempat heran dengan dua pasang mba-mba dan mas-mas setengah baya. Pasangan itu berdiri di depan sebuah kaca dan saling berhadapan, di tangan kiri mba-mba itu memegang setumpuk baju dan ditangan kanannya tak lain dan tak bukan hanya BB seorang, di tangan kiri mas-mas itu menenteng kantung belanja dan jempol tangan kanannya sibuk kesana kemari menjelajahi keyboard BB nya. Kegiata tersebut mereka lakukan dari muai saya dan ibu saya mencoba pakaian sampai dengan kami berdua terengah-engah karena merasa terlalu banyak mencoba namun tidak membeli satu pun dan kami pun keluar dari butik tersebut.

    Di satu sisi dunia teknologi boleh saja selalu meningkatkan produk-produknya (bahkan harus), namun apabila konsumennya belum bisa me-manage penggunaan dari suatu produk tentu saja hal tersebut akan menimbulkan dampak yang merugikan. BB sama sekali tidak buruk, justru mempermudah penggunanya terutama dalam bertelekomunikasi  maupun berbisnis. Namun konsekuensinya terkadang tidak disadari oleh penggunanya, penggunanya sering lupa esensi dari telekomunikasi itu sendiri, dengan komunikasi silaturahmi terjaga tapi ada dua yang sering terlupa yaitu etika bertelekomunikasi dan berinteraksi.

    Dengan kemudahan komunikasi jarak jauh, orang yang benar-benar dekat (satu tempat) malah teracuhkan, yang tadinya mungkin telah merancang pertemuan temu kangen malah ujung-ujungnya sibuk sendiri atau autis dengan BB-nya. Esensi pertemuan atau temu kangen itu sendiri tidak tercapai. Hal-hal yang sepele atau hal-hal kecil misalnya jika kita bertemu seseoang dan berkomunikasi langsung dua arah, akan lebih menghormati jika berbicara dengan lawan bicara apabila saling bertemu pandang dan mendengarkan dengan seksama. Pengguna BB lebih sering berbincang bincang tidak lagi saling berpandangan, tapi saling memandang BB nya. Bahkan yang tidak punya BB misalnya, berbicara sambil memandang lawan bicaranya yang punya BB, namun yang punya BB akan selalu sibuk dengan BB-nya.

    Terlepas dari lika-liku kegunaan BB, beberapa waktu yang lalu saya ngobrol lewat chat bersama dengan sepupu saya yang baru kelas enam SD. Ditengah obrolan tiba-tiba dia bertanya, “mba hpnya apa? BB ya?”. Saya menjawab “bukan ko, aku pake sony ericsson tapi gatau type yang apa”. “hahahahaha” sepupu saya tertawa, “aku bilang BB tuh ya cocoknya dipake sama businessman, ya kan mba?”. Kemudian saya yang tertawa sekarang “hahahahaha” “kenapa gitu?” tanya saya. “Engga aku cuma ga suka aja ama temen-temen aku yang pada pake BB, mereka bahkan gatau gimana caranya push e-mail, mereka cuma pake BB biar bisa gampang update facebook” ujarnya panjang lebar. “bahkan ada yang udah dua kali ganti BB, sekarang dia pake javeline, and everybody adores her BB!” tambahnya lagi. kemudian saya bertanya “ini kamu atau bunda sih? you sounds so much like bunda,hahahaha”. “ini aku kaliiiiii”, “tapi bener loh mba temen-temenku tuh sekarang kerjaannya jago-jagoan gadget padahal kita kan masih anak keciiillll” saya bisa membayangkan wajahnya ketika dia berbicara panjang lebar seperti ini. “yaudah makanya mulai dari sekarang kamu jago-jagoan nilai aja, daripada punya BB tapi ga dapet rangking,ya kan?” kataku, sambil masih mereka-reka apakah benar ini yang ada di dalam pikiran seorang anak kelas 6 sd?

    Sejujurnya saya belum menemukan kegunaan utama dari memiliki BB, selain bisa push email dan mendekatkan yang jauh. Karena saya memang lebih nyaman melakukan browsing, facebooking, chating menggunakan laptop saya yang ketika dinyalakan selalu berbunyi seperti orang meraung-raung ini. Entah mungkin suatu saat nanti saya tertarik, tapi untuk saat ini saya belum siap untuk jadi autis dan masih ingin berkomunikasi dan berbincang dengan cara kuno. Berjabat tangan, mendengarkan dan menatap kedua mata lawan bicara saya tanpa diganggu bunyi-bunyian yang berasal dari BB hihihi.

     
    • Bebe 2:14 pm pada April 23, 2009 Permalink | Balas

      wah.. emang gitu org pake BB, bokap2 aja smp bisa loh kena efeknya, contohnya nih papa aku..jarang2nya aja melek teknologi apalagi buat per-HP-an, eh pas nyoba blackberry lgsg tiap masuk kamarnya pasti lagi senderan di tmpt tidur sambil ngulik BB, TV ttp dinyalain tapi kayanya udah ga diperhatiin lagi tuh TV, poor TV ^^’

      • gadisayu18 9:17 am pada April 24, 2009 Permalink | Balas

        anaknya masih tetep diperhatiin kaaannn? kalo lagi ga ngapa2in sih gpp..tapi kalo lagi ngobrol kan senep juga dianggurin ya bebe yaaaa..toss dulu dong sama2 ga pake BB.hahaha

      • gadis ayu 2:06 pm pada Maret 18, 2010 Permalink | Balas

        kemakan omongan sendiri..aku pakai bb semenjak kerja..untuk meningkatnkan mobilitas dan memudahkan pekerjaan..back then i was just closed my eyes and now starting to shut my mouth before testing some new gadget or new things ;) lesson learned..

    • Getty 3:57 pm pada April 23, 2009 Permalink | Balas

      hmmm..gak juga loh dis…kl udah kelamaan juga gak dipegang2..kl lo beli pasti gak nyesel..drpd beli hp nokia yg gak bisa apa2..tp harganya segituan juga…coba dulu dan rasakan..hehehe

      • gadisayu18 4:04 pm pada April 23, 2009 Permalink | Balas

        itu dia get, gwe sadar akan kapasitas ketergantungan gwe terhadap barang..hahaha jadi lebih baik ga beli drpd ketagihan… =P
        tapi emang buat profesi2 tertentu BB tuh guna bgt…memang blackberry yang fenomenal!

    • islamarket.net 11:00 pm pada April 23, 2009 Permalink | Balas

      bagi yang sudah bosan dengan blackberry, selakan berikan kepada saya. hehehe…

    • mas stein 8:48 am pada April 24, 2009 Permalink | Balas

      saya masih ndak mudheng BB ini, nunggu ada temen yang beli biar bisa nyoba-nyoba :lol:
      *ndeso*

    • kinit 4:16 am pada Mei 6, 2009 Permalink | Balas

      gadis, gw br baca blognya ni..huahaha, makin giat ya nulisnya..wakaka..
      gw msh skripsi2 aja ni, pas td lo sapa d ym..gw jg msh aja ngerjain..huahaha.. *gw lemoot bgt ya

      btw..ttg bb..hehehe, kl pny duit gw mgkn bakal beli jg.
      tp tenang aja, kl gw yg make ga akan jd autis apalagi smp kcelakaan, krn ga bwt gw kotak-katik ko..cukup gw pegang aja kmana pun gw pergi..hahaha, kan fungsi bb gw *kl punya* bwt gaya (stidaknya kliatan gaya..hahaha) aja..jd dpegangin aja terus..
      : D

    • jerzz 1:21 pm pada Juli 22, 2009 Permalink | Balas

  • gadisayu18 8:33 am pada April 22, 2009 Permalink | Balas
    Tags: ABG, , , Fashion, kampus, Majalah, Model, Trend   

    girl in the life magazine 

    kerap kali melihat wajah-wajah baru di majalah-majalah remaja, dengan postur tinggi semampai, timbangan tubuhnya mungkin sama dengan  dua karung beras lebih sedikit, wajah-wajah indo-bule (memang tak dipungkiri masyarakat indonesia memang lebih suka barang import ketimbang barang lokal)

    waktu itu saat saya dan teman-teman sibuk menunggu di rektorat kampus kami tercinta, salah seorang teman ternyata membeli sebuah majalah remaja yang sudah empat tahun digandrungi para ABG-ABG yang hampir matang. Terbukti jika saya pergi ke pusat perbelanjaan (belanja barang, belanja mata,belanja mulut hahahaha, disana mata saya belanja mengamati cara berandan para pengunjung termasuk ABG-ABG mayoritas, mulut saya pun tak mau kalah dengan komentar berujung decak kagum sampai komentar miring diikuti mata yang ikut nimbrung, terbelalak) pengunjung yang mayoritas ABG gayanya sragam dan tak salah lagi kiblatnya adalah majalah fashion remaja yang muncul sejak tahun 2005 tersebut (apabila ditranslate menggunakan bahasa indonesia nama majalah itu menjadi : MAJU PEREMPUAN!)

    Dahulu saya termasuk penikmat majalah tersebut, namun merasa umur tidak layak menyentuh apalagi menikmati bagian dalamnya (saya sadar saya tak sanggup mengikuti trend fashionnya) akhirnya saya sekarang sibuk cicip-mencicip berbagai majalah pre-mature , dan mencoba menyesuaikan majalah apa yang patut saya konsumsi.

    Kembali ke saat saya dan teman-teman sedang menunggu di rektorat kampus.

    Lelah menunggu dan menghitung waktu akhirnya saya meminjam majalah tersebut dan mencoba membalikkan waktu mundur (kembali menjadi saya saat menjadi penikmat majalah itu (dahulu)). Dimulai dengan ulasan tentang celebs dan pakaiannya sampai pada gadgetnya, ulasan most wanted item-must have item (or you can die by not having them), sampai pada ulasan liputan suatu acara workshop di Boston-USA yang diselenggarakan oleh HMNUN yang slah satu delegasinya adalah mahasiswi fakultas ilmu sosial di kampus saya, yang juga pemenang favorite dari ajang look model majalah tersebut.nylon magazinego girl versi barat

    Wajahnya banyak terpampang di beberapa lembar majalah ini dengan mengenakan gaun-gaun yang mungkin jatuhnya bakal tidak cocok jika digunakan oleh orang biasa (red: bukan model). Sesaat setelah saya membaca dan mengamati wajahnya di majalah, tiba-tiba gadis di majalah itu seperti merangkak keluar dari majalah dan berdiri tepat searah lurus pandangan mata saya.

    Gerak refleks saya muncul secepat kilat dengan memerintahkan siku saya untuk menyenggol syaraf kepekaan teman disamping saya yang turut membaca majalah tersebut. Akhirnya teman saya mendongak dan kemudian berulang kali melakukan gerakan pengulangan (mendongak dan melihat ke wajah gadis itu kemudian menatap kembali wajah yang terpampang di majalah, berkali-kali seperti itu) tampaknya teman saya tidak tahu, jika gadis itu ternyata berada di zona yang berdekatan dengan-nya alias satu kampus! (how could she didn’t know her? padahal dia termasuk pelanggan setia majalah ini dan mungkin jika majalah ini menerbitkan kartu member, teman disamping saya sekarang ini pasti sudah punya kartu anggotanya)

    “ah cantikan aslinya!pantesan aja gwe ga nyadar, lah wong di majalahnya aja ga mirip sob!” ujar teman saya berdalih. “oh ternyata dia pinter ya? gwe kira model-model begitu kaga ada otaknya” teman saya yang ternyata turut memperhatikan gelagat kami ikut menimpali. “iya emang pinter kali, IPKnya aja 3,sekian” teman saya yang baru berancang-ancang duduk tak mau kalah nimbrung. “dia kan calon wakil presiden mahasiswa kali! tapi yang malesin dia tuh kalo ga kenal sama orang dan ga deket ga bakal mau nyapa duluan”. “serius lo? maksudnya gimana?” saya jadi penasaran. “ya kalo baru dikenalin sekali trus ga pernah ngobrol atau berinteraksi bareng dia bakalan ga nganggep tu orang, dan mainnya milih-milih” temen saya yang memang terkenal ratu lebah alias mobilitasnya tinggi hingga ke pelosok fakultas ilmu komputer itu menjelaskan. “dia tuh sekarang-sekarang ini aja kali doyan senyam senyum ramah-tamah, padahal aslinya mah kaga’! yah ibaratnya doi lagi mau promosi diri buat jadi wapresma” rupanya teman saya yang lain ikut setuju dengan anggapan bahwa gadis cantik yang wajahnya terpampang di majalah ABG ini memang sedang asik berpura-pura ramah dalam rangka “kampanye”. Obrolan kami pun terhenti karena objek pembicaraan kami sedang menuju kesini.

    Benar saja, gadis berparas menawan itu berada di tengah-tengah kami sekarang. Saya pun bingung menerka-nerka, apa yang akan dilakukannya ya?. Ternyata dia hanya sekedar ingin mengobrol dengan teman saya yang diduduk tepat dihadapan saya, (teman saya si ratu lebah itu, ternyata teman SMA nya)

    Saat itu juga saya berfikir cepat dan mengambil kesimpulan. Untuk menjadi seseorang dalam dunia entertain seperti contonhya majalah (terutama majalah ABG) memang tidak mudah. Banyak persepsi yang muncul disana-sini, objek yang turut dinikmati sekian banyak mata harus serta merta menjaga sikapnya, menjaga citra dirinya. Kemudian saya berfikir lebih cepat lagi dari sebelumnya, hmmm model kaya dia aja yang istilahnya baru mekar dan belum begitu terkenal udah harus nerima banyak persepsi-persepsi dan judgement dari setiap pasang mata maupun mulut-mulut penikmat produk entertainment.

    Berat juga bagi sesorang yang hidup di tengah masyarakat kritis dan cenderung sinis seperti penikmat-penikmat dunia entertainment ini. she won all the intentions, the glamorous,the “WOOOWWW”, but all of that she have to pay, with her eyes and ears shut or she could drown on it.

    Beberapa hari setelahnya…di kelas

    “eh pemilu kampus tanggal berapa sih?” tanya seorang lelaki di bangku belakang saya kepada temannya. “26-27 april, lo pilih siapa presma ama wapresnya?” temannya bertanya balik. “si X dan si Y laaahh, pasangan cantik dan ganteng gitu.” “Lo tau kan kalo si Y itu model majalah ….. ?gileee kapan lagi punya wapresma cantik trus model pula!” ujar lelaki itu dengan suara yang makin keras dan saya yakin wanita yang duduk diujung sana dan lelaki di depan kiri saya pun pasti mendengarnya.

     
    • mas stein 8:57 am pada April 22, 2009 Permalink | Balas

      jadi siapa yang kemampuan inteleknya pas-pasan mbak? :lol:

      repot juga, kadang sudah terbentuk opini kalo keindahan fisik berbanding terbalik dengan kemampuan otaknya. hehe

      • gadisayu18 11:31 am pada April 22, 2009 Permalink | Balas

        memberikan persepsi dan opini itu hal yang manusiawi, baru berhubungan sama intelek itu kalo isi persepsinya dan opini yang diberikan cenderung menyudutkan,menghakimi hal-hal yang belum teruji kebenarannya. Semanya toh kembali ke diri sendiri, lebih baik yang buruk-buruk dibicarakan dalam hati saja..hehehe

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.