don’t let your man step in to your kitchen 

Tulisan ini bukan suatu pembenaran atau pembedaan gender, tulisan ini hanya berdasarkan hal yang saya alami hal yang jenaka untuk dibagi..

Masak-memasak, banyak lelaki yang begitu mahir tapi tidak dengan lelaki yang satu ini, keahliannya hanya memasak mie goreng, dan telur dadar (telur dadar yang lain dari biasanya, telur dadar cinta haahaha). Lelaki ini ga pernah betah di dapur, awal-awal saya kenal dia saya berusaha secara persuasive untuk membuat dia suka alias betah di dapur dan tak hanya itu saya juga ingin dia bisa memasak satu jenis masakan saja, satuuu saja.

Ternyata mengajar memasak ga sekedar seperti mengajar bernyanyi (memasak terbukti lebih sulit, meskipun keduanya memang harus pake hati. Tapi sudah sangat jelas dia lebih suka karaoke dari pada memasak walaupun hanya goreng tempe). Setidaknya usaha saya sedikit berhasil tadinya dia selalu memasak dengan api yang sangat besar, dan selalu bingung mengapa nugget, sosis dan kornet menu sahurnya selalu terasa matang diluar dan hambar didalamnya. (dia memasak hanya pada saat bulan puasa). Kini ia sudah bisa mennetukan kapan harus mengecilkan dan membesarkan api.

Ketika kami berdua di dapur (dia selalu dengan senang hati ingin ikut membantu, tapi nyatanya saya lebih baik disuruh masak sambil jalan jongkok bolak-balik hahahaha) laki-laki ini begitu ingin mengocok telur dadar, membubuhi garam, dan menuangkannya ke dalam wajan. Tapi hasilnya tangannya yang kelu tak kuasa membalik telur dadar, disertai kebingungan yang berkepanjangan “kenapa semuanya ngumpul ditengah?” (itu karena dia tidak mengoyan wajannya secara merata jadi telur itu tidak memenuhi wajan melainkan ngumpul ditengah). “sini-sini aku bantu” ujar saya sambil gemas takut dadarnya gosong (itu 2 telur terakhir untuk minggu ini), “engga-engga aku bisa koo” padahal tampangnya masih bimbang dan dahinya mulai berkeringat. Akhirnya dengan pergulatan hebat (berlebihan mode: ON) saya berhasil mengambil alih dadar dan wajan, dadar pun TERSELAMATKAN!

Menu kedua adalah dada ayam bumbu tepung. Dia ribut-ribut sambil mengacungkan jari agar saya memperbolehkannya melumuri dada ayam itu dengan kocokan telur dan tentu saja tepungnya, yang terjadi malah hidungnya yang sensitive bersin-bersin (tapi saya salut, lelaki ini tetap tegar dan menyelesaikan tugas tepung-menepungnya hingga rampung) tapi tunggu dulu, laki-laki ini mulai ngotot lagi bahwa ayamnya sudah matang dan siap diangkut.  Alhasil tepung dan ayam yang dikira sudah matang itu tidak kriuk-kriuk, tepungnya tidak mau kompromi dengan ayam, si tepung lepas-lepas dari si ayam (api kompor kurang besar)

Beberapa kali saya memasak dan kemudian makan bersama, akhirnya laki-laki ini mundur perlahan dari dapur saya. Dia mulai merasa bukan disitu tempatnya, dan saya pun mulai sadar bahwa tidak perlu memaksakan laki-laki untuk suka dan betah di dapur. Karena memang ada laki-laki yang sama sekali tidak bisa memegang spatula dengan benar, menuangkan cukup minyak, membalikkan telor dadar, memotong bawang-bawang, dll.

Sekarang saya begitu senang dan sangat senang dengan hanya melihat laki-laki saya ini makan dengan lahapnya dan menikmati betul masakan-masakan saya tanpa harus melibatkan dirinya di dapur, meskipun terkadang dia masih sering berdiri di sebelah saya hanya untuk memandangi dan memperhatikan apa yang saya lakukan dan kemudian berucap “semangat ya! makasih udah mau masakin aku” dan ucapan penutup setelah makan adalah “hmm kenyang, enak bebe” (sambil bersandar, menebar senyum dan lesung pipitnya)begini cara makannya