kerap kali melihat wajah-wajah baru di majalah-majalah remaja, dengan postur tinggi semampai, timbangan tubuhnya mungkin sama denganĀ dua karung beras lebih sedikit, wajah-wajah indo-bule (memang tak dipungkiri masyarakat indonesia memang lebih suka barang import ketimbang barang lokal)
waktu itu saat saya dan teman-teman sibuk menunggu di rektorat kampus kami tercinta, salah seorang teman ternyata membeli sebuah majalah remaja yang sudah empat tahun digandrungi para ABG-ABG yang hampir matang. Terbukti jika saya pergi ke pusat perbelanjaan (belanja barang, belanja mata,belanja mulut hahahaha, disana mata saya belanja mengamati cara berandan para pengunjung termasuk ABG-ABG mayoritas, mulut saya pun tak mau kalah dengan komentar berujung decak kagum sampai komentar miring diikuti mata yang ikut nimbrung, terbelalak) pengunjung yang mayoritas ABG gayanya sragam dan tak salah lagi kiblatnya adalah majalah fashion remaja yang muncul sejak tahun 2005 tersebut (apabila ditranslate menggunakan bahasa indonesia nama majalah itu menjadi : MAJU PEREMPUAN!)
Dahulu saya termasuk penikmat majalah tersebut, namun merasa umur tidak layak menyentuh apalagi menikmati bagian dalamnya (saya sadar saya tak sanggup mengikuti trend fashionnya) akhirnya saya sekarang sibuk cicip-mencicip berbagai majalah pre-mature , dan mencoba menyesuaikan majalah apa yang patut saya konsumsi.
Kembali ke saat saya dan teman-teman sedang menunggu di rektorat kampus.
Lelah menunggu dan menghitung waktu akhirnya saya meminjam majalah tersebut dan mencoba membalikkan waktu mundur (kembali menjadi saya saat menjadi penikmat majalah itu (dahulu)). Dimulai dengan ulasan tentang celebs dan pakaiannya sampai pada gadgetnya, ulasan most wanted item-must have item (or you can die by not having them), sampai pada ulasan liputan suatu acara workshop di Boston-USA yang diselenggarakan oleh HMNUN yang slah satu delegasinya adalah mahasiswi fakultas ilmu sosial di kampus saya, yang juga pemenang favorite dari ajang look model majalah tersebut.

Wajahnya banyak terpampang di beberapa lembar majalah ini dengan mengenakan gaun-gaun yang mungkin jatuhnya bakal tidak cocok jika digunakan oleh orang biasa (red: bukan model). Sesaat setelah saya membaca dan mengamati wajahnya di majalah, tiba-tiba gadis di majalah itu seperti merangkak keluar dari majalah dan berdiri tepat searah lurus pandangan mata saya.
Gerak refleks saya muncul secepat kilat dengan memerintahkan siku saya untuk menyenggol syaraf kepekaan teman disamping saya yang turut membaca majalah tersebut. Akhirnya teman saya mendongak dan kemudian berulang kali melakukan gerakan pengulangan (mendongak dan melihat ke wajah gadis itu kemudian menatap kembali wajah yang terpampang di majalah, berkali-kali seperti itu) tampaknya teman saya tidak tahu, jika gadis itu ternyata berada di zona yang berdekatan dengan-nya alias satu kampus! (how could she didn’t know her? padahal dia termasuk pelanggan setia majalah ini dan mungkin jika majalah ini menerbitkan kartu member, teman disamping saya sekarang ini pasti sudah punya kartu anggotanya)
“ah cantikan aslinya!pantesan aja gwe ga nyadar, lah wong di majalahnya aja ga mirip sob!” ujar teman saya berdalih. “oh ternyata dia pinter ya? gwe kira model-model begitu kaga ada otaknya” teman saya yang ternyata turut memperhatikan gelagat kami ikut menimpali. “iya emang pinter kali, IPKnya aja 3,sekian” teman saya yang baru berancang-ancang duduk tak mau kalah nimbrung. “dia kan calon wakil presiden mahasiswa kali! tapi yang malesin dia tuh kalo ga kenal sama orang dan ga deket ga bakal mau nyapa duluan”. “serius lo? maksudnya gimana?” saya jadi penasaran. “ya kalo baru dikenalin sekali trus ga pernah ngobrol atau berinteraksi bareng dia bakalan ga nganggep tu orang, dan mainnya milih-milih” temen saya yang memang terkenal ratu lebah alias mobilitasnya tinggi hingga ke pelosok fakultas ilmu komputer itu menjelaskan. “dia tuh sekarang-sekarang ini aja kali doyan senyam senyum ramah-tamah, padahal aslinya mah kaga’! yah ibaratnya doi lagi mau promosi diri buat jadi wapresma” rupanya teman saya yang lain ikut setuju dengan anggapan bahwa gadis cantik yang wajahnya terpampang di majalah ABG ini memang sedang asik berpura-pura ramah dalam rangka “kampanye”. Obrolan kami pun terhenti karena objek pembicaraan kami sedang menuju kesini.
Benar saja, gadis berparas menawan itu berada di tengah-tengah kami sekarang. Saya pun bingung menerka-nerka, apa yang akan dilakukannya ya?. Ternyata dia hanya sekedar ingin mengobrol dengan teman saya yang diduduk tepat dihadapan saya, (teman saya si ratu lebah itu, ternyata teman SMA nya)
Saat itu juga saya berfikir cepat dan mengambil kesimpulan. Untuk menjadi seseorang dalam dunia entertain seperti contonhya majalah (terutama majalah ABG) memang tidak mudah. Banyak persepsi yang muncul disana-sini, objek yang turut dinikmati sekian banyak mata harus serta merta menjaga sikapnya, menjaga citra dirinya. Kemudian saya berfikir lebih cepat lagi dari sebelumnya, hmmm model kaya dia aja yang istilahnya baru mekar dan belum begitu terkenal udah harus nerima banyak persepsi-persepsi dan judgement dari setiap pasang mata maupun mulut-mulut penikmat produk entertainment.
Berat juga bagi sesorang yang hidup di tengah masyarakat kritis dan cenderung sinis seperti penikmat-penikmat dunia entertainment ini. she won all the intentions, the glamorous,the “WOOOWWW”, but all of that she have to pay, with her eyes and ears shut or she could drown on it.
Beberapa hari setelahnya…di kelas
“eh pemilu kampus tanggal berapa sih?” tanya seorang lelaki di bangku belakang saya kepada temannya. “26-27 april, lo pilih siapa presma ama wapresnya?” temannya bertanya balik. “si X dan si Y laaahh, pasangan cantik dan ganteng gitu.” “Lo tau kan kalo si Y itu model majalah ….. ?gileee kapan lagi punya wapresma cantik trus model pula!” ujar lelaki itu dengan suara yang makin keras dan saya yakin wanita yang duduk diujung sana dan lelaki di depan kiri saya pun pasti mendengarnya.
Jadi… hasilnya gimana?
sakit apa?
btw ganti template ya?