Pilih SITU-GINTUNG atau KAMPANYE saudara-saudara?
Setelah membaca beberapa blog seputar bencana SITU-GINTUNG beserta videonya, (terimakasih kepada para blogger yang sudah menposting blog tentang SITU-GINTUNG) saya langsung spontan mengganti channel TV saya Menjadi METRO TV (memang hanya channel ini di Indonesia yang selalu Up-date segala berita-berita).
Saya memang begitu orangnya, tidak terlalu peka terkadang malah terlampau cuek (kalo ibu saya membaca ini pasti beliau bangga dan merasa menang karena akhirnya saya mengakui keburukan saya yan satu ini. “tapi untungnya ibu-ku gaptek internet, hehehe”). Kalo saja saya tidak browsing-browsing blog-blog, mungkin saja sampai sekarang saya tidak begitu berniat untuk mengikuti berita mengenai SITU-GINTUNG.
Metro TV begitu aktual menayangkan berita-berita terbaru perihal apa saja yang telah dilakukan dalam rangka penanganan korban-korban yang tewas (berita terakhir 90-an lebih), yang belum ditemukan, dan yang selamat. Cuplikan-cuplikan gambar yang ditayangkan membuat air mata saya meluncur dengan luwesnya.
Ada satu video yang diambil dari heli yang menyorot seorang lelaki menggotong entah mayat lelaki atau perempuan dengan berlari-lari. Penduduk yang berada di daerah itu sontak berteriak ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR berulang ulang, dan laki-laki itu terus berlari tanpa menghiraukan bantuan yang ditawarkan warga sekitar. (backsound lagu Ebiet.G.Ade yang saya lupa judulnya)
Selain video, Metro TV turut meliput Dua korban hidup yang ditinggalkan orang-orang tercinta secara bersamaan, yaitu Oscar anwar (suradara drama TVRI) dan Putut.
Oscar Anwar ditinggalkan empat orang anak tercinta, dan hingga sekarang istrinya belum juga ditemukan. Pada saat kejadian, Oscar Anwar sedang berada di Semarang. Saat menemui jasad keempat anaknya, beliau menciumi satu-satu anaknya dengan berkata “(sambil menyebutkan nama anaknya) ini bapak nak, maafin bapak nak” (saya langsung teringat ayah saya).
Putut, seorang bapak muda berada diatas kursi roda, didorong oleh seorang sanak saudaranya menuju jazad anaknya yang baru berusia 6 bulan dan jasad istrinya, di sebuah RS. Raut wajahnya begitu pasrah, tidak ada rasa amarah atau teriakan dan tangis. Tampaknya beliau sudah kebal akan rasa perih, sehingga kehilangan mimik dan tak kuasa melakukan apa-apa. Ironisnya, putut diatas kursi rodanya masih menimang dan menggendong jazad anaknya yang sudah dikafani, sambil sedikit menggumam entah berbicara apa kepada anaknya yang sudah tak bernyawa.
Kemudian ada Eddy seorang laki-laki paruh baya, korban hidup yang turut mencurahkan uneg-unegnya lewat reporter Metro TV. “alhamdulillah bantuan banyak terkumpul, sampai sekarang makanan, pakaian sudah banyak dibantu lewat sumbangan. Tapi saya kasihan melihat anak-anak sekolahan yang sudah tidak punya alat-alat sekolah, seragam, buku, sepatu, jika dimungkinkan bantuan untuk anak-anak seklah juga tolong disalurkan”. Selain curhat seputar bantuan, Eddy juga nampak tak nyaman dengan kehadiran banyaknya orang yang datang untuk sekedar “menonton” atau melihat dari dekat. ia pun berujar “kami ini kena musibah,bukan buat tontonan!”
Tapi menurut berita, para “penonton” itu juga bersedia menyumbangkan langsung bantuan, yang kurang lebih terkumpul Rp.23 juta. ALHAMDULILLAH..
-
- melihat situasi SITU GINTUNG
- KAMPANYE TERBUKA
- SITU GINTUNG
Setelah mengikuti beberapa berita dan cuplikan berita tentang situ-gintung, Metro TV beralih dengan liputan berita seputar KAMPANYE para CAPRES. Golkar di NTT, DEMOKRAT di Aceh, Gerindra di Jawa tengah, dll.
Liputan seputar kampanye justru tidak sanggup menggugah hati saya untuk yakin akan PEMILU 2009, karena isinya seputar ricuh mengenai, tidak kebagian kaos, saling bertikai karena bintang tamu tak kunjung datang, dll. Saya tidak mendapatkan makna yang berarti dari kampanye itu sendiri. Dimana esensinya? jika yang terjadi toh hanya ricuh-ricuh dan rusuh. Malahan saya begitu muak ketika salah satu CAPRES ber-orasi diatas panggung di depan lautan simpatisannya dengan berteriak berkata : “jika pemilu nanti anda salah contreng atau salah pilih, tolong jangan pilih maling-maling itu lagi!!!!” begitulah kira-kira kata-katanya.
Kemudian level ketertarikan saya terhadap PEMILU tahun ini semakin menurun mendekati minus. Bagaimana bisa seorang CAPRES yang nantinya menjadi pemimpin bangsa (jika ia terpilih) bisa berbicara dan memberikan pernyataan bahwa masyarakat Indonesia telah salah memilih, dan yang dipilih itu maling. Mungkin dengan kapasitas seorang CAPRES beliau lupa akan arti bebas atau bablas, beliau lupa diri, dan dengan seenaknya melabel-i seseorang dengan sebutan maling. Kenapa yang dijunjung bukan pembaharuan Indonesia dan upaya-upaya pembarantasan segala yang dianggap buruk, jahat, amoral, dll. kenapa harus saling menjatuhkan?
Kalo kata si Z (pacar saya) “ga banyak orang-orang yang kaya kamu dan aku (memangnya seperti apa ya kita ini? hehehe). Banyak orang yang tahu dan sadar kalo masyarakat Indonesia masih sangat mudah dikonfrontasi, masih dapat dengan mudah di bangkitkan dendamnya dengan diangkatnya keburukan-keburukan yang dipercaya sebagai penyebab bagi segala keterpurukan hidupnya.”
Kemudian saya meneruskan kata-kata Z dalam hati, “dengan orasi yang saling memojokkan dan menjatuhkan, masyarakat akan kembali mengingat hal-hal yang buruk yang menimpanya di pemerintahan yang lalu, dan dengan begitu semakin meyakinkan mereka untuk memilih CAPRES yang sedang berorasi liar di depannya”. Saya pun jadi tahu maksudnya si z tentang “ga banyak orang-orang yang kaya kamu dan aku” maksudnya orang-orang yang tidak dengan mudah dihasut, atau lebih tepatnya masih berpikir seribu kali tentang kebenaran-kebenaran politik baik yang didengar langsung maupun melalui televisi, koran atau radio. Saya dan Z memang sehati hihihihi
Kemudian pemikiran baru pun tibul di otak saya, dengan melontarkan pertanyaan kepada Z.” Kenapa sih udah tau ada bencana (kiamat kecil) di Situ-Gintung tapi Partai-partai itu masih aja ngotot kampanye dimana-mana?“
Kalo inti dari kampanye itu sebenarnya untuk meyakinkan masyarakat Indonesia keseluruhan (bukan hanya di daerah yang disinyalir massa atau simpatisannya banyak saja), kenapa para CAPRES, Partai dan simpatisannya tidak berorasi secara langsung dengan turun ke lapangan: SITU GINTUNG. Disana sepertinya lebih membutuhkan dukungan baik moral, maupun materiil, lebih butuh untuk diyakinkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Di SITU GINTUNG para capres bisa memulai atau setidaknya mencoba melakukan sesuatu, yang kemudian sangat dimungkinkan bahwa dengan kepedulian yang nyata dari para CAPRES masyarakat Indonesia (salah satunya saya) turut diyakinkan bahwa PEMILU 2009 memang dihadirkan untuk perubahan, memang ada untuk memberi ‘mereka’ kesempatan dan memberi ‘kita’ harapan.
Turut berbelasungkawa atas Bencana yang menelan Korban jiwa di SITU-GINTUNG, insyaallah syahid dihadapan ALLAH SWT . Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan lahir dan batin AMIEN.




kinit 4:51 am pada Mei 6, 2009 Permalink |
dirimu ikutan nyumbang ga dis??
hehehe.. *hayoo