Tulisan ini diilhami oleh statement teman saya yang memberikan tag line untuk gadget Blackberry(BB) menjauhkan yang dekat mendekatkan yang jauh. Tanpa pikir panjang saya langsung ngakak sambil berpikir (ngakak dan berpikir itu susah loh). Lucu sih tapi ya memang faktanya demikian, orang yang “dikuasai” BB pasti sibuk dengan BB-nya entah chatting, entah facebookan, entah ga ngapa2in tapi emang pengen ngotak-ngatik aja, entah buka email dan entah-entah yang lain (biasanya kegiatan antah berantah itu disebut AUTIS)
Ada teman saya yang kalo sudah sibuk dengan BB nya, ia tidak perduli dengan obrolan sekitar maupun keadaan sekitar meskipun pada saat itu juga Geng kami sedang asik bergosip, asik ngobrol dari yang penting sampai yang ga penting hingga ga penting sama sekali. Teman saya itu merasa dimudahkan dengan kehadiran BB karena pada saat itu statusnya dengan pacarnya adalah LDR (long distance Relationshit hahahaha). Walhasil setiap harinya ia sibuk ber chit-chat ria dengan pacar tersayang nun jauh di benua Australia. Ternyata joke teman saya terbukti “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh”.
Baru-baru ini ada seorang gadis yang meninggal dunia akibat kecelakaan, disinyalir akibatnya adalah pada saat mengendarai mobilnya ia juga sibuk ber BBM-an (Blakberry messenger) dengan temannya. Berita ini disebar ke berbagai media internet (facebook salah satunya), sesama pengguna BB, bahkan sampai masuk koran. Saya tidak mengenal gadis ini, namun ternyata dia termasuk salah satu mahasiswi yang cukup terkenal di kampusnya. Sosoknya baik, menyenangkan,dll itu yang saya lihat di internet. Bahkan pada saat saya membuka youtube ada 2 video yang menayangkan slide-slide fotonya yang berjudul in memoriam jade dan remembering jade, nama gadis itu jade.
Kemudian ada senior di kampus saya yang saya kenal hanya sebatas persenyuman saja (kalo berpapasan senyum-senyuman saja tapi belum tentu saling tahu nama atau angkatan satu sama lain). Senior saya itu berteman dengan saya di facebook dan tiap kali dia pergi ke suatu tempat, pasti statusnya berubah. Contoh : “Aseeeeekkk lagi get high di ….”, “lagi makan mie yamin di ….., dingin-dingin gini brrrr”, “lagi luluran di ….. enak banget”. Tidak hanya itu, sesaat statusnya diubah foto kegiatan yang tersirat di statusnya pun di upload.
Ada lagi teman kampus saya, yang sedari munculnya wabah BB muncul ia sibuk pilah-pilih BB mana yang cocok dengan dirinya (kaya nyari pacar aja hahahaha) Pada akhirnya, baru-baru ini BB nya bisa terwujud. Tapi muncul statement dari dirinya, begini katanya : “ah pake BB ternyata ga enak”, “facebooknya layarnya kecil, enakkan pake komputer di rumah” kemudian saya dan penumpang angkot lainnya hanya menghela napas.
Wabah demam BB juga menyerang pakde saya, (rupanya wabah BB tak pandang umur). Pada saat saya sowan (red:berkunjung) ke rumahnya pakde saya tak lagi banyak bicara, biasanya beliau yang paling bawel jika bertemu dengan ponakannya yang satu ini, candaan-candaan hanya sedikit yang dilontarkan pokonya pakde saya tak seperhatian dulu deh. Beliau lebih perhatian sama BB Bold yang masih gress itu. Kemudian saat saya pamit pulang pakde saya yang biasanya memberikan nasehat atau wejangan,kali ini tidak lagi. “kamu beli BB enak kan kita nanti bisa ngobrol BBM dan PING-PING an” ujarnya sambil masih sibuk memandangi BB nya. Saya dan ibu saya hanya geleng-geleng kepala.
Di restoran yang cukup terkenal di Bandung, saya dan Z yang ngidam sop buntut saat itu. Sambil menunggu makanan datang, kami melakukan ritual kami yaitu foto-foto menggunakan digicam. Hari itu pengunjung yang datang cukup ramai, terdengar gelak tawa dimana-mana dan riuh rendah suara pengunjung. Namun tidak dengan meja di samping meja kami. Disitu ada tiga orang yang sudah berumur kira-kira kepala empat atau lebih, mereka sama sekali tidak saling berinteraksi. Mereka sibuk dengan BB nya masing-masing hingga makanannya tiba, mungkin kegiatan itu berlangsung sampai makanan mereka dingin atau bahkan sampai pada saat kami berdua mau pulang.
Tidak hanya itu saja, di salah satu butik di sebuah mall, saya yang saat itu sedang berburu pakaian bersama ibu saya (maklum lagi musim sale hehe) sempat heran dengan dua pasang mba-mba dan mas-mas setengah baya. Pasangan itu berdiri di depan sebuah kaca dan saling berhadapan, di tangan kiri mba-mba itu memegang setumpuk baju dan ditangan kanannya tak lain dan tak bukan hanya BB seorang, di tangan kiri mas-mas itu menenteng kantung belanja dan jempol tangan kanannya sibuk kesana kemari menjelajahi keyboard BB nya. Kegiata tersebut mereka lakukan dari muai saya dan ibu saya mencoba pakaian sampai dengan kami berdua terengah-engah karena merasa terlalu banyak mencoba namun tidak membeli satu pun dan kami pun keluar dari butik tersebut.
Di satu sisi dunia teknologi boleh saja selalu meningkatkan produk-produknya (bahkan harus), namun apabila konsumennya belum bisa me-manage penggunaan dari suatu produk tentu saja hal tersebut akan menimbulkan dampak yang merugikan. BB sama sekali tidak buruk, justru mempermudah penggunanya terutama dalam bertelekomunikasi maupun berbisnis. Namun konsekuensinya terkadang tidak disadari oleh penggunanya, penggunanya sering lupa esensi dari telekomunikasi itu sendiri, dengan komunikasi silaturahmi terjaga tapi ada dua yang sering terlupa yaitu etika bertelekomunikasi dan berinteraksi.
Dengan kemudahan komunikasi jarak jauh, orang yang benar-benar dekat (satu tempat) malah teracuhkan, yang tadinya mungkin telah merancang pertemuan temu kangen malah ujung-ujungnya sibuk sendiri atau autis dengan BB-nya. Esensi pertemuan atau temu kangen itu sendiri tidak tercapai. Hal-hal yang sepele atau hal-hal kecil misalnya jika kita bertemu seseoang dan berkomunikasi langsung dua arah, akan lebih menghormati jika berbicara dengan lawan bicara apabila saling bertemu pandang dan mendengarkan dengan seksama. Pengguna BB lebih sering berbincang bincang tidak lagi saling berpandangan, tapi saling memandang BB nya. Bahkan yang tidak punya BB misalnya, berbicara sambil memandang lawan bicaranya yang punya BB, namun yang punya BB akan selalu sibuk dengan BB-nya.
Terlepas dari lika-liku kegunaan BB, beberapa waktu yang lalu saya ngobrol lewat chat bersama dengan sepupu saya yang baru kelas enam SD. Ditengah obrolan tiba-tiba dia bertanya, “mba hpnya apa? BB ya?”. Saya menjawab “bukan ko, aku pake sony ericsson tapi gatau type yang apa”. “hahahahaha” sepupu saya tertawa, “aku bilang BB tuh ya cocoknya dipake sama businessman, ya kan mba?”. Kemudian saya yang tertawa sekarang “hahahahaha” “kenapa gitu?” tanya saya. “Engga aku cuma ga suka aja ama temen-temen aku yang pada pake BB, mereka bahkan gatau gimana caranya push e-mail, mereka cuma pake BB biar bisa gampang update facebook” ujarnya panjang lebar. “bahkan ada yang udah dua kali ganti BB, sekarang dia pake javeline, and everybody adores her BB!” tambahnya lagi. kemudian saya bertanya “ini kamu atau bunda sih? you sounds so much like bunda,hahahaha”. “ini aku kaliiiiii”, “tapi bener loh mba temen-temenku tuh sekarang kerjaannya jago-jagoan gadget padahal kita kan masih anak keciiillll” saya bisa membayangkan wajahnya ketika dia berbicara panjang lebar seperti ini. “yaudah makanya mulai dari sekarang kamu jago-jagoan nilai aja, daripada punya BB tapi ga dapet rangking,ya kan?” kataku, sambil masih mereka-reka apakah benar ini yang ada di dalam pikiran seorang anak kelas 6 sd?
Sejujurnya saya belum menemukan kegunaan utama dari memiliki BB, selain bisa push email dan mendekatkan yang jauh. Karena saya memang lebih nyaman melakukan browsing, facebooking, chating menggunakan laptop saya yang ketika dinyalakan selalu berbunyi seperti orang meraung-raung ini. Entah mungkin suatu saat nanti saya tertarik, tapi untuk saat ini saya belum siap untuk jadi autis dan masih ingin berkomunikasi dan berbincang dengan cara kuno. Berjabat tangan, mendengarkan dan menatap kedua mata lawan bicara saya tanpa diganggu bunyi-bunyian yang berasal dari BB hihihi.
mjindhar 7:56 pm on Juli 23, 2009 Permalink |
all the bestest for it!
lay out nya ikut” nih hahhahahah! tapi asik yeee, ga ribet.
mjindhar 8:16 pm on Juli 23, 2009 Permalink |
test test. gw tadi coba “balas” post lo yg ini tapi kenapa ga keliatan ya? ap harus lewat approval dari lo dulu Dis?